Defisit Neraca Perdagangan Juni 2026
Analisis GINSI terhadap defisit neraca perdagangan Juni 2026, faktor pendorong kenaikan impor, risiko impor migas, serta rekomendasi kebijakan untuk menjaga ketahanan perdagangan Indonesia.
BERITABISNISOPINI
CAPT. SUBANDI (KETUA UMUM GINSI)
8/6/2026


Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit sebesar US$0,45 miliar pada Juni 2026, setelah pada Mei 2026 mengalami defisit US$1,61 miliar. Ini merupakan defisit dua bulan berturut-turut, sekaligus menandai berakhirnya tren surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan sejak Mei 2020.
Berikut ringkasan data utama berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) pada 3 Agustus 2026.
Apakah Kenaikan Impor Mencerminkan Aktivitas Industri atau Ketergantungan Impor yang Semakin Besar?
Data impor yang dipublikasikan BPS merupakan nilai transaksi dalam dolar AS, bukan volume fisik barang. Oleh karena itu, kenaikan nilai impor—termasuk impor bahan baku dan barang penolong yang meningkat 38,94 persen—tidak dapat langsung diartikan sebagai peningkatan jumlah barang yang masuk.
Nilai impor dipengaruhi berbagai faktor, seperti harga komoditas global, nilai tukar rupiah, serta waktu pembelian (timing importasi). Dengan demikian, kenaikan nilai transaksi belum tentu mencerminkan peningkatan aktivitas produksi secara riil.
Indikator sektor manufaktur justru menunjukkan arah yang berbeda. PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei 2026. Posisi di bawah angka 50 menunjukkan bahwa sektor manufaktur berada dalam fase kontraksi, ditandai dengan melambatnya produksi dan pesanan baru.
Pada periode yang sama, sejumlah perusahaan manufaktur juga menghentikan operasional atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya biaya bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah serta melemahnya permintaan domestik.
Dengan mempertimbangkan berbagai indikator tersebut, pola kenaikan impor saat ini lebih mencerminkan langkah antisipatif pelaku usaha dalam mengamankan stok sebelum penerapan kewajiban SNI pada sejumlah komoditas serta menghindari risiko pelemahan rupiah yang lebih dalam, dibandingkan sebagai indikasi ekspansi industri atau meningkatnya daya beli masyarakat.
Rekomendasi Narasi
"Ada satu hal mendasar yang perlu digarisbawahi. Data impor yang dipublikasikan BPS merupakan nilai transaksi dalam dolar AS, bukan volume fisik barang. Karena itu, kenaikan nilai impor belum tentu berarti jumlah barang yang masuk meningkat dalam proporsi yang sama. Angka tersebut juga dipengaruhi oleh perubahan harga, nilai tukar, maupun strategi pembelian pelaku usaha.
Jika dibandingkan dengan indikator riil, gambaran ekonomi justru belum menunjukkan ekspansi. PMI Manufaktur Indonesia berada pada level kontraksi pada Juni, sementara pada periode yang sama sejumlah industri melakukan penutupan pabrik dan PHK.
Kami di GINSI melihat kenaikan impor bahan baku dan barang penolong lebih mencerminkan langkah antisipatif pelaku usaha untuk mengamankan pasokan menjelang penerapan wajib SNI serta mengantisipasi pelemahan rupiah, bukan sebagai sinyal menguatnya daya beli maupun ekspansi industri.
Oleh karena itu, kami mendorong BPS bersama Kementerian Perindustrian untuk mulai mempublikasikan data volume impor secara berdampingan dengan nilai transaksi agar kondisi riil perekonomian dapat dibaca secara lebih utuh."
Seberapa Besar Risiko Kenaikan Impor Migas terhadap Neraca Perdagangan hingga Akhir 2026?
Impor migas sepanjang semester I 2026 meningkat 38,71 persen menjadi sekitar US$22 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan impor nonmigas sebesar 15,5 persen. Tren ini menunjukkan bahwa tekanan pada neraca perdagangan bukan bersifat sementara, melainkan telah berlangsung secara konsisten selama enam bulan pertama tahun ini.
Untuk semester II 2026, prospek harga minyak dunia masih dipenuhi ketidakpastian. Sebagian lembaga memproyeksikan harga akan menurun apabila pasokan dari kawasan konflik kembali normal. Namun, sejumlah analis memperkirakan harga dapat bertahan di kisaran US$90 per barel akibat tingginya premi risiko geopolitik, khususnya di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa neraca perdagangan Indonesia kini semakin sensitif terhadap gejolak harga energi global dibandingkan ketika surplus perdagangan masih berada pada level yang kuat.
Rekomendasi Narasi
"Risiko kenaikan impor migas masih sangat nyata dan tidak dapat dianggap sebagai fenomena sementara. Data semester pertama menunjukkan bahwa impor migas tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan impor nonmigas, sementara ketidakpastian geopolitik masih berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi.
Kami mendorong pemerintah, Pertamina, dan pelaku usaha untuk mempercepat langkah mitigasi, antara lain melalui optimalisasi produksi migas domestik, diversifikasi sumber pasokan energi, serta penerapan strategi lindung nilai (hedging) terhadap harga energi."
Kebijakan Apa yang Paling Mendesak untuk Menekan Impor Barang Konsumsi?
Pemerintah telah menerapkan pembatasan terhadap 12 kelompok komoditas melalui Permendag Nomor 47 Tahun 2025. Namun, data Juni 2026 masih menunjukkan bahwa impor barang konsumsi meningkat 17,46 persen.
Hal ini mengindikasikan bahwa instrumen pembatasan yang berlaku saat ini belum sepenuhnya efektif menekan impor konsumsi. Di sisi lain, berbagai persyaratan administratif justru menambah beban kepatuhan bagi importir resmi.
GINSI juga mencatat bahwa proses sertifikasi, khususnya SNI wajib, masih menghadapi berbagai kendala berupa biaya tinggi dan waktu penyelesaian yang panjang. Sementara itu, barang tanpa dokumen yang lengkap masih dapat beredar di pasar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa beban regulasi lebih banyak ditanggung pelaku usaha formal dibandingkan pelaku usaha ilegal.
Rekomendasi Narasi
"Kami tidak memandang penambahan larangan impor sebagai solusi utama. Instrumen yang sudah diterapkan sejak awal tahun belum menunjukkan hasil yang optimal dalam menekan impor barang konsumsi.
Yang lebih mendesak adalah mengevaluasi efektivitas kebijakan yang telah berjalan, memperkuat pengawasan terhadap peredaran barang ilegal, serta menyederhanakan proses sertifikasi seperti SNI yang saat ini masih membebani pelaku usaha formal.
Kami mengajak Kementerian Perdagangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta Kementerian Perindustrian untuk melakukan evaluasi bersama dengan asosiasi sebelum menerbitkan kebijakan pembatasan baru."
Perlukah Indonesia Memperluas Sumber Impor dan Mendiversifikasi Mitra Dagang?
Data perdagangan terbaru menunjukkan ketimpangan yang cukup besar. China masih menjadi penyumbang defisit perdagangan terbesar Indonesia sebesar US$13,61 miliar, sedangkan Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar sebesar US$8,55 miliar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa diversifikasi mitra dagang bukan lagi sekadar strategi jangka panjang, melainkan kebutuhan struktural untuk mengurangi risiko ketergantungan pada negara maupun jalur pasokan tertentu.
Ketergantungan terhadap pasokan energi melalui kawasan yang rawan konflik, seperti Selat Hormuz, semakin memperkuat urgensi diversifikasi sumber impor.
Rekomendasi Narasi
"Data terbaru menunjukkan bahwa konsentrasi perdagangan pada beberapa mitra utama masih sangat tinggi. Defisit terbesar berasal dari satu negara, sementara surplus terbesar bergantung pada negara lainnya. Kondisi ini merupakan risiko struktural yang perlu dikurangi.
Kami mendukung upaya pemerintah memperluas kerja sama perdagangan bilateral maupun regional. Namun, diversifikasi sumber pasokan juga harus diikuti dengan penyederhanaan prosedur impor di dalam negeri agar manfaatnya benar-benar dapat dirasakan pelaku usaha."
Bagaimana Proyeksi GINSI terhadap Tren Impor pada Semester II 2026?
Surplus perdagangan kumulatif semester I 2026 hanya mencapai US$3,58 miliar, turun sekitar 82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$19,60 miliar. Penurunan ini menunjukkan bahwa bantalan surplus perdagangan Indonesia semakin menipis.
Apabila pola defisit bulanan seperti yang terjadi pada Mei dan Juni kembali berulang pada semester II, Indonesia berpotensi mencatat defisit perdagangan tahunan pertama sejak tren surplus dimulai pada Mei 2020.
Di sisi lain, apabila kenaikan impor bahan baku pada Juni memang dipengaruhi oleh strategi front-loading menjelang penerapan wajib SNI, maka perlambatan impor pada kuartal berikutnya perlu diinterpretasikan secara hati-hati. Penurunan tersebut belum tentu mencerminkan perbaikan struktural, melainkan bisa saja hanya menunjukkan berakhirnya fase pengamanan stok.
Faktor yang akan sangat menentukan hingga akhir tahun adalah stabilitas harga minyak dunia serta kemampuan ekspor nonmigas mempertahankan pertumbuhan di atas 9 persen.
Rekomendasi Narasi
"Kami tidak ingin bersikap alarmis, tetapi angka-angka ini perlu dibaca secara objektif. Bantalan surplus perdagangan Indonesia saat ini jauh lebih tipis dibandingkan tahun lalu sehingga ruang untuk menyerap guncangan eksternal menjadi semakin terbatas.
Kami juga mengingatkan agar kenaikan impor bahan baku belakangan ini tidak langsung dipandang sebagai tren jangka panjang. Jika sebagian besar dipicu oleh strategi pengamanan stok menjelang penerapan wajib SNI, maka efeknya berpotensi mereda setelah masa transisi berakhir.
GINSI memperkirakan tekanan terhadap neraca perdagangan masih akan berlanjut pada kuartal III 2026, dengan peluang normalisasi menjelang akhir tahun apabila harga minyak dunia lebih stabil dan ekspor nonmigas tetap tumbuh positif.
Karena itu, pemerintah dan pelaku usaha perlu memantau perkembangan data perdagangan secara bulanan dan menyiapkan langkah-langkah antisipatif sejak dini agar surplus neraca perdagangan tahun 2026 tetap dapat dipertahankan."
Informasi Kontak
Email: bppginsi@ginsi-pusat.com
Telp: +62 21 4586 8266
Mobile Phone: +62 822 1184 5004
JL. RAYA KELAPA NIAS LC 1/17 KELAPA GADING BARAT, KELAPA GADING, JAKARTA UTARA
Tentang Portal
Pusat informasi dan layanan digital bagi anggota GINSI di seluruh Indonesia. Kami berkomitmen mendukung kelancaran arus barang impor melalui pendampingan regulasi, advokasi kebijakan, dan pengembangan jaringan bisnis internasional.
